RSS

Menyibak di Balik Kemajuan Teknologi



Kita tidak bisa lagi menghindari kenyataan yang ada di depan kita, bahwasanya saat ini dunia, termasuk Indonesia telah memasuki era globalisasi. Globalisasi merupakan sebuah proses yang berlangsung melalui dua dimensi, yaitu dimensi ruang dan dimensi waktu. Dimensi ruang yang diartikan dengan jarak antar wilayah yang jauh akan terasa semakin dekat, sedangkan dimensi waktu diartikan sebagai waktu yang dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi skala dunia.1 Menurut Thomas L. Friedman pada tahun 2004, globalisasi adalah suatu dimensi ideologi dan teknologi. Dimensi ideologi yaitu kapitalisme dan pasar bebas, sedangkan dimensi teknologi adalah teknologi informasi yang telah menyatukan dunia.2 Banyak faktor yang mendukung terjadinya globalisasi, salah satu faktornya adalah kemajuan teknologi, baik teknologi informasi, komunikasi, industri, dan lainnya.
Istilah  “teknologi” berasal dari bahasa Yunani yaitu technologisTechnie berarti seni, keahlian atau sains, dan logos berarti ilmu. Teknologi, menurut Association  for Educational Communication and Technology (AECT) pada tahun 1977 adalah proses yang kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari pemecahan masalah, melaksanakan evaluasi, dan mengelola pemecahan masalah yang menyangkut semua aspek belajar manusia.3 Dari definisi ini, kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa teknologi diciptakan untuk membantu manusia dalam memecahkan masalahnya. Berbagai kegiatan kehidupan sehari-hari sangat dipermudah dengan adanya kehadiran teknologi. Namun pernahkah kita berfikir dibalik kemudahan ini, ternyata teknologi dapat memengaruhi segala aspek kehidupan kita, baik berupa dampak positif maupun negatif. Oleh karena itulah, penulis membuat tulisan ini dengan tujuan membuka mata kita untuk tidak terlena dengan buaian teknologi dan mengajak kita untuk berfikir kritis terhadap masalah krusial ini.
Teknologi, terutama Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) adalah pendukung utama bagi terselenggaranya globalisasi. Dengan dukungan TIK, informasi dalam bentuk dan kepentingan apapun dapat disebarluaskan dengan mudah, sehingga dengan cepat memengaruhi cara pandang dan gaya hidup, hingga budaya suatu bangsa. Kecepatan arus informasi yang dengan cepat membanjiri kita, seolah-olah tidak memberikan kesempatan kepada kita untuk menyerapnya dengan filter mental dan sikap kritis. Makin canggih dukungan teknologi tersebut, makin besar pula arus informasi dapat dialirkan dengan jangkauan dan dampak global. Oleh karena itu, selama ini dikenal asas “kebebasan arus informasi” berupa proses dua arah yang cukup berimbang yang dapat saling memberikan pengaruh satu sama lain.
Teknologi berkembang sinergis dengan perkembangan manusia, mengapa? Hal ini dikarenakan kemajuan ilmu pengetahuan dan usaha dari manusia yang berkembang, sehingga menghasilkan teknologi yang semakin berkembang pula. Apabila tidak terjadi kemajuan pada ilmu pengetahuan manusia, maka teknologi pun tidak akan berkembang, karena yang menciptakan perkembangan teknologi adalah manusia itu sendiri. Sesuai dengan perkembangan kehidupan manusia, maka teknologi pun akan mengikuti perkembangan tersebut. Jadi dapat disimpulkan bahwa perkembangan teknologi saling berhubungan dan bekerja sinergis dengan aspek kemanusiaan. Manusia akan memengaruhi perkembangan teknologi, begitu pula sebaliknya teknologi juga akan memengaruhi kehidupan manusia.
 Pada hakikatnya sejak dahulu hingga sekarang, teknologi diciptakan untuk membantu dan memberikan kemudahan dalam berbagai aspek kehidupan, baik pada saat manusia bekerja, berkomunikasi, bahkan untuk mengatasi berbagai persoalan pelik yang timbul di masyarakat. TIK tidak hanya membantu dan mempermudah manusia,  tetapi juga menawarkan cara-cara baru di dalam melakukan aktivitas-aktivitas tersebut sehingga dapat memengaruhi budaya masyarakat yang sudah tertanam sebelumnya.
Perlu kita perhatikan dan ingat, pengaruh TIK memiliki dua sisi yaitu pengaruh positif dan negatif.  Pengaruh positif yang dapat dirasakan dengan adanya TIK adalah peningkatan kecepatan, ketepatan, akurasi, dan kemudahan yang memberikan efisiensi dalam berbagai bidang, khususnya dalam masalah waktu, tenaga, dan biaya. Contoh manifestasi TIK yang mudah dilihat di sekitar kita adalah pengiriman surat hanya memerlukan waktu singkat dengan kehadiran surat elektronis (email), ketelitian hasil perhitungan dapat ditingkatkan dengan adanya komputasi numeris, pengelolaan data dalam jumlah besar juga bisa dilakukan dengan mudah yaitu dengan basis data (database), dan masih banyak lagi.
Akan tetapi, pernahkah kita sadari dengan adanya kemudahan dalam hal komunikasi ini, kita semakin malas untuk bersosialisasi secara langsung dengan orang lain. Kebanyakan dari kita, khususnya anak muda lebih memilih berhubungan dan berkomunikasi melalui dunia maya seperti lewat Facebook, Yahoo Messenger, Friendster dan situs jejaring sosial lainnya. Kita dapat mengatakan bahwa kehadiran TIK ini tidak hanya dapat mendekatkan yang jauh, tetapi juga dapat menjauhkan yang dekat. Maksudnya apa? Kita bisa berhubungan dengan orang-orang di seluruh pelosok dunia dengan TIK. Hal ini membuat hubungan yang jaraknya jauh, terasa lebih dekat. Namun kita tidak menyadari, terkadang kita terlalu asyik berhubungan dengan komunikasi dunia maya ini. Kecanduan terhadap komunikasi dunia maya ini menyebabkan kita malas untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Kita lebih memilih untuk duduk di depan layar komputer berjam-jam untuk Facebook-an. Kita lupa bahwa ada hubungan dan komunikasi yang lebih penting, yaitu hubungan dengan orang-orang terdekat kita. Kita jarang bertegur sapa secara langsung dengan orang lain, kaku ketika berbicara di depan umum, karena kita selama ini hanya berkomunikasi secara tidak langsung. Hal tersebutlah yang menyebabkan orang yang dekat terasa jauh.
Kemudahan kita dalam mengakses informasi dari seluruh dunia ini, juga menyebabkan mudahnya terjadi akulturasi budaya antar negara. Berbagai gambar porno dapat menyebarluas di internet dengan begitu mudahnya. Lambat laun, kita sebagai negara timur yang dikenal menjunjung tinggi nilai kesopanan bisa terkontaminasi dengan kebudayaan barat yang tidak terlalu mementingkan nilai kesopanan. Akulturasi budaya ini apabila tidak difiltrasi dengan baik, bisa jadi akan memengaruhi ideologi dari suatu negara. Apabila hal tersebut terjadi, kemana lagi ciri khas dan landasan dasar dari negara kita?
Pengaruh negatif lainnya juga bisa muncul dari aspek globalisasi ekonomi. Kemajuan teknologi dalam bidang transportasi, komunikasi, dan informasi, memudahkan terbukanya pasar bebas yang memungkinkan produk luar negeri masuk dengan mudah. Banyaknya produk luar negeri dan ditambah dengan harga yang relatif lebih murah, dapat mengurangi rasa kecintaan masyarakat terhadap produk dalam negeri. Hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia.
Akan tetapi, tidak bisa kita pungkuri juga bahwa kemajuan teknologi dalam bidang transportasi, komunikasi, dan informasi juga memudahkan negara kita untuk mengadakan komunikasi dengan negara lain dalam upaya memenuhi kebutuhan negara. Kita sebagai makhluk sosial memerlukan bantuan orang lain, begitupula dengan sebuah negara juga memerlukan bantuan negara lain. Negara tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sendirian. Untuk memenuhi semua kebutuhan ini, kita memerlukan hubungan dan diplomasi dengan negara lain. Hubungan diplomasi antar negara dapat lebih mudah dilakukan apabila sarana transportasi, komunikasi, dan informasi juga tersedia dengan baik. Kemajuan teknologi tersebut sangat menunjang hubungan diplomatik antar negara.
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa teknologi sangat memengaruhi kehidupan manusia. Bagaimana teknologi dapat memengaruhi nilai-nilai yang telah tumbuh di masyarakat, sangat tergantung dari sikap masyarakat tersebut. Agar teknologi dapat berjalan sinergis dengan kemanusiaan, seyognya masyarakat harus selektif dan bersikap kritis terhadap teknologi yang berkembang sangat pesat. Bersikap selektif maksudnya bisa memilih teknologi mana yang baik bagi kehidupannya dan dapat membatasi dirinya agar tidak terlalu tergantung dengan teknologi tersebut. Pemerintah juga berperan secara aktif menyeleksi dan memfilter informasi-informasi yang masuk ke masyarakat. Misalnya dengan memblokir semua situ-situs porno dan hal-hal lainnya yang bertentangan dengan ideologi Pancasila. Dengan bersikap selektif,  semua manfaat positif yang terkandung di dalam teknologi mampu dimanifestasikan agar mampu membantu dan mempermudah kehidupan masyarakat, dan efek negatif dapat lebih diminimalkan.

Referensi      
 1. Winarno, Budi. Globalisasi & kritis demokrasi. Jakarta: Gramedia Pustaka   Utama;2007.p.14.
2. Winarno, Budi. Globalisasi peluang atau ancaman bagi Indonesia. Jakarta: Erlangga;2008.p.23.
3. AECT. The definition of educational technology. Washington: AECT. 1970.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sistem Pendidikan Indonesia: Mencerdaskan atau Menakutkan ?


Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial,……..” (Pembukaan UUD 1945 Alinea IV)
Berdasarkan kutipan di atas, salah satu tujuan Negara Republik Indonesia ialah mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendiri bangsa kita telah merumuskan tujuan negara tersebut bersama dengan konstitusi tertulis Indonesia, yakni UUD 1945. Menurut tujuan negara tersebut jelas terlihat bahwa pendiri bangsa memiliki komitmen yang kuat dalam bidang pendidikan. Hal ini dikarenakan pendidikan merupakan aspek penting untuk meciptakan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas serta berkontribusi bagi pembangunan negara.

Dalam UU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Pasal 3 disebutkan bahwa, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” Dari rumusan ini dapat disimpulkan bahwa pendidikan memiliki peranan yang penting sehingga diperlukan adanya sistem yang dapat mengakomodir fungsi dan tujuan agar tercipta sinergitas antara fungsi dan tujuan tersebut.


Realita pendidikan di Indonesia saat ini menunjukkan adanya proses pembaharuan sistem secara berkelanjutan. Mulai dari standardisasi nilai Ujian Akhir Nasional hingga kebijakan penerapan otonomi kampus di Perguruan Tinggi dengan mengeluarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan. Semua sistem yang hari ini berusaha diterapkan pada dunia pendidikan di Indonesia menimbulkan berbagai fenomena unik, mulai dari penolakan keras hingga kritik terhadap sistem tersebut.


Dr.dr.B.M Wara Kushartanti (pemerhati pendidikan.red), mengungkapkan bahwa  sistem pendidikan Indonesia tidak membuat siswa kreatif karena hanya terfokus pada proses logika, kata-kata, matematika, dan urutan dominan. Akibatnya perkembangan otak siswa tidak maksimal dan miskin ide baru. Pernyataan tersebut mungkin ada benarnya jika dikaitkan dengan proses pendidikan hari ini. Value Oriented yang dimaknai sebagai hasil akhir, bukan dari proses yang dilakukan, terkadang menjerumuskan paradigma pendidikan. Sehingga tak aneh ketika seorang sarjana dengan IPK Cum Laude  tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengaplikasikan ilmu yang didapatkan di bangku perkuliahan. Orientasi pada nilai cenderung mengesampingkan proses kreatifitas yang justru dibutuhkan ketika “terjun” di masyarakat.


Sistem pendidikan seharusnya menempatkan pelajar sebagai subjek bukan objek. Sedangkan realita sosial yang terjadi di sekitar adalah, pelajar  dijadikan sebagai materi pembelajaran. Menjadikan pelajar sebagai objek inilah yang menyebabkan perubahan paradigma pendidikan Indonesia yang pada awalnya mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi pendidikan yang berorientasikan nilai. Pada akhirnya, pendidikan hanya dimaknai sekedar ajang mencari nilai bagus dan ijazah sebagai bentuk legitimasi, bukan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.


Jika diamati, sistem pendidikan yang selama ini diterapkan di Indonesia tampaknya cenderung membuat pelajar menjadi pasif, atau kurang memotivasi untuk memunculkan kreatifitas. Salah satu alasan mengapa kebanyakan sistem pendidikan di Indonesia (justru) membuat siswa-siswi menjadi pasif adalah karena adanya orang-orang atau sistem tertentu yang memang ingin memastikan bahwa siswa-siswi mereka selalu berada ‘di dalam kontrol’, sehingga ketika ada siswa/i yang memiliki kreatifitas di atas rata-rata justru akan dianggap sebagai murid yang ‘kurang ajar’ atau ‘memberontak.’ Akibatnya, mereka mulai memberikan ‘hukuman’ atau tekanan-tekanan tertentu yang mengharuskan murid menurut tanpa memikirkan lebih lanjut apa yang diperintahkan oleh sang guru.


Saat ini, kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: rotan pemukul, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru kepada muridnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: jangan, awas, kalau, dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah. Dengan sejuta ketakutan yang mengahampiri murid, apakah guru bisa mendidik dan membangun kecerdasan murid tersebut?


Pendidikan yang berorientasikan kepada nilai bukan kepada pengetahuan menjadikan siswa tertekan mentalnya. Dalam kehidupan sehari-hari, tidak semua siswa bisa memperoleh nilai yang sesuai dengan kriteria keberhasilan.  Hal ini dikarenakan, setiap siswa mempunyai kemampuan dan bakatnya masing-masing. Namun sayangnya, ketidakmampuan dari siswa ini hanya dapat dideteksi oleh sebagian kecil guru. Seharusnya, apabila ada siswa yang memperoleh nilai kecil, seorang guru berusaha mencari tahu mengapa siswa tersebut bisa memperoleh nilai kecil. Seorang guru harus mencari tahu di mana kelemahan siswa tersebut dan mencari jalan keluar terhadap masalah siswa tersebut. Bisa jadi siswa tersebut tidak memperoleh nilai bagus karena mereka memang tidak mengerti atau sama sekali tidak berminat dengan pelajaran tersebut. 


Namun fakta berkata lain, kebanyakan guru ketika siswa memperoleh nilai yang rendah akan memarahi, mencubit, bahkan mengatai siswa tersebut bodoh. Dalam paradigma kebayakan pihak pendidik, apabila seorang siswa tidak berhasil mencapai nilai yang diinginkan, anak tersebut dicap sebagai anak yang bodoh dan pemalas. Apabila kejadian itu terus berlanjut, tidak heran banyak siswa yang depresi ketika nilainya rendah dan bahkan ada beberapa kejadian siswa bunuh diri ketika tidak lulus ujian nasional. Hal ini semua dipengeruhi oleh paradigma yang salah terhadap pendidikan.


Secara tidak langsung nilai rendah yang diberikan kepada murid, bisa menyebabkan murid akan menganggap bodoh dirinya sendiri. Paradigma dari siswa yang menganggap dirinya bodoh, akan menyebabkan siswa tidak percaya diri terhadap semua yang dia kerjakan. Paradigma ini juga menyebabkan siswa tidak bisa mengembangkan dirinya, merasa takut untuk bersaing, dan tidak mempunyai keinginan untuk maju. Inilah yang ditakutkan dari pendidikan yang berorientasikan kepada nilai. Namun seandainya, bila pendidikan tidak berorintasikan kepada nilai dan pihak guru tidak menganggap siswanya bodoh karena nilainya rendah, siswa bisa terlepas dari beban mental terhadap nilai.


Sekolah yang memaksakan kehendak kepada muridnya mungkin bisa menciptakan suasana lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat murid untuk belajar. Bagaiamana bisa seorang murid bisa berkreatif, jika murid salah sedikit saja guru sudah memarahinya. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh. Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya.


Bicara tentang sistem pendidikan, terlebih dahulu kita harus bicara tentang orang yang menggerakkan sistem itu sendiri. Hal ini kembali berpulang pada para guru dan staf pengajar yang ada. Sistem pendidikan yang baik adalah ketika guru dapat mengenali dan memunculkan setiap potensi yang ada dalam diri siswanya. Sebagai contoh, ada sekolah-sekolah tertentu yang tidak menetapkan target khusus seperti kebanyakan sekolah pada umumnya dalam proses belajar mengajar. Mereka hanya menetapkan tema tertentu dan membiarkan murid-murid menggali pemahaman mereka sendiri. Dengan demikian, siswa yang rajin dan kreatif secara otomatis akan mendapatkan informasi dan pengetahuan yang lebih banyak dari siswa yang lain. Selanjutnya, siswa-siswi yang melakukan penggalian informasi ini diminta untuk melakukan presentasi di depan kelas dan dari situlah guru memberikan penilaian. Selain itu, guru juga memberikan arahan dan tuntunan, khususnya bagi siswa yang prestasi akademisnya masih kurang. Dengan demikian, siswa bukan hanya diajar berdasarkan kurikulum belaka, namun juga dipupuk dan dilatih untuk memberikan presentasi, berkreasi, mengamati, menganalisa, dan menggali informasi.


Hal ini sangat berbeda dengan sistem sekolah konservatif yang selama ini dianut, yaitu berdasarkan buku teks belaka sehingga tanpa sadar ‘memasung’ kreatifitas siswa yang bersangkutan. Akan tetapi, di sisi lain, sistem baru yang mulai diterapkan oleh sekolah-sekolah ‘plus’ ini memiliki konsekuensi, yaitu dibutuhkan guru yang lebih banyak sehingga satu guru tidak menangani terlalu banyak murid. Inilah yang menjadi masalah di beberapa sekolah, yaitu kurangnya tenaga pengajar baik dalam jumlah maupun kualitas, sementara sekolah menerima siswa dalam kapasitas semaksimal mungkin. Dari sini kita semakin bisa melihat, betapa kompleksnya permasalahan yang ada dalam sistem pendidikan kita.

Dunia pendidikan sebagai ruang bagi peningkatan kapasitas anak bangsa haruslah dimulai dengan sebuah cara pandang bahwa pendidikan adalah bagian untuk mengembangkan potensi, daya pikir, dan daya nalar serta pengembangan kreatifitas yang dimiliki. Sistem pendidikan yang mengebiri ketiga hal tersebut hanyalah akan menciptakan keterpurukan SDM yang dimiliki bangsa ini yang hanya akan menjadikan Indonesia tetap terjajah dan tetap di bawah ketiak bangsa asing. Untuk mewujudkan SDM yang berkualitas ini, bukan hanya pihak pendidikan saja yang bekerja, namun peran dari pemerintah, orang tua, dan masyarakat juga dibutuhkan demi terwujudnya sistem pendidikan Indonesia yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Semoga dengan kerja sama dari beberapa elemen tersebut, sistem pendidikan Indonesia bisa menjadi lebih baik.




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Melupakan atau Mengikhlaskan ?


Salah satu sahabatku pernah berkata seperti ini..

"Daripada melupakan, lebih baik mengikhlaskan. Biarkanlah memori itu menjadi kenangan indah masa lalu kita."
Yaa,, kalimat itu sudah seringkali aku baca di  berbagai tulisan, bukan hanya dari sahabatku. Berdasarkan kutipan kalimat tersebut, ingin sekali aku membahasnya dari sisi kedokteran dan agama islam.
Sesuatu yang sangat ingin dilupakan pastinya memiliki makna yang sangat besar dalam hidup kita. Kalau dilihat dari segi kedokterannya, sesuatu yang sangat berharga akan direkam oleh memori di dalam otak kita dengan sangat kuatnya. Di sini terdapat peran hipokampus sebagai memory card semua ingatan kita. Dikarenakan sangat berharga dan membawa perasaan yang mendalam, bukan hanya hipokampus yang berperan di sini, terdapat pula amigdala yang memengaruhinya. Amigdala ini sangat berperan penting dalam menyimpan memori, terutama memori yang menyangkut emosi. Dengan kerja double dari amigdala dan hipokampus, maka memori yang berhubungan dengan emosi tersebut sangat sangat melekat di dalam otak kita.
Suatu memori, akan semakin melekat di dalam otak kita apabila kita terus menerus me-recallnya. Inilah proses penyimpanan memori jangka panjang. Layaknya ketika mau ujian, kita baru belajar mati-matian saat mau ujian saja, yaa bahasa gaholnya SKS --> "Sistem Kebut Semalam." Dapat dipastikan satu hari setelah ujian, semua pelajaran yang telah kita pelajari buat ujian tersebut sudah terlupakan, terutama pelajaran yang berhubungan dengan hapalan contohnya ngapalin farmakologi. Hal ini mengapa bisa terjadi? Ini dikarenakan kita hanya menggunakan memori jangka pendek/sesaat untuk menghadapi ujian, bukan memori jangka panjang. Memori jangka panjang akan dimiliki apabila seseorang terus menerus me-recall memori tersebut. Inilah proses belajar yang sesungguhnya. Bukan hanya dalam belajar pelajaran sekolah, tapi dalam kegiatan lainnya, proses belajar dengan re-call ini juga terjadi ketika kita belajar main sepeda. Dengan latihan berkali-kali, kita baru bisa mengendarai sepeda. Di sini otak berperan dalam menyimpan memori seluruh fungsi tubuh kita dalam bermain sepeda, baik kaki yang akan mendayung, tangan yang memegang stang, mata yang tetap fokus melihat, propioseptif dan vestibular agar tetap seimbang. Ini semua bisa terjadi akibat proses recall. Sama halnya dengan kita tidak akan pernah lupa nama orangtua, adek, dan alamat rumah kita. Karena dalam kehidupan sehari-hari kita terus menerus berhubungan dengan memori ini, sehingga terjadilah proses recall yang terus menerus. Memori jangka panjang (seperti nama) ini akan sulit sekali hilang walaupun orang tersebut amnesia akibat kecelakaan (jadi kalo yang disinetron ada cerita tentang kecelakaan sedikit langsung lupa nama sendiri, itu bohong besar yaaa.hehe). Memori jangka panjang ini baru akan hilang kalau memang orang itu mengalami gangguan fungsi kognitif seperti alzheimer.
Sudah cukup pembahasan dari segi kedokterannya, kalo dijelaskan lebih lanjut malah tambah puyeng. Yak, lanjut ke judul utama, "Melupakan atau mengikhlaskan?". Kalau kita ada sesuatu yang ingin banget kita lupakan, misalnya nilai ujian yang jelek atau dimarahin dosen atau yang lebih ngetrennya anak muda sekarang ni mantan pacar. Kita pengen banget melupakan hal-hal yang tak menyenangkan tersebut. Kalau mau jujur dengan diri sendiri, setiap kita berusaha melupakan sesuatu, eh malah yang ada semakin ingat bukan? Ayoo ngakuuuu!! Hahaha.. Nah, kalau kita sambungin sama teori kedokterannya tadi bahwa sesuatu yang berhubungan dengan perasaan itu direkam sama otaknya double oleh hipokampus dan amigdala. Terus, sesuatu yang terus menerus di recall ini akan semakin disimpan kuat oleh otak. Ibarat lem nih, percampuran antara lem alteco dan lem korea yang sama-sama kuat. Jadi memori yang ingin banget kita lupakan, malah jadi semakin kita ingat. Dan hasilnya kita Ga to the LAU lagi deh, hehe :P
Wah kalo gitu salah dong yaa, kalo misalnya kita ada sesuatu yang ingin banget kita lupakan terus kita berusaha melupakannya? yaa, bisa dibilang sih gitu. Pernah denger juga kalimat begini, "Memaafkan bukan berarti melupakan." Ini kalimat bener banget, kita kan punya otak yang mengatur semua memori. Kalau dikaitkan dengan sebelumnya2, pasti memori yang bikin kesal ini kuat banget kan rekaman memorinya? Jadi memaafkan bukan berarti melupakan. Tetapi memaafkan ditambah mengikhlaskan akan lebih baik bagi kita untuk berusah tidak mengingat (a.k.a melupakan). kok jadi ribet yaa? haha... Oke, diperjelas deh. Maksudnya kita bukan berusaha melupakan, tetapi kita berusaha untuk memaafkan dan mengikhlaskannya.  Langsung kasih contoh deh ke kejadian anak muda zaman sekarang: putus pacar. Orang yang putus, biasanya pengen banget ngelupain semua hal yang menyangkut mantannya. Semakin dilupakan, eh malah semakin ingat dan semakin galau. Nah, dalam kasus ini ada baiknya kalo kita memaafkan semua kesalahan mantan tersebut dan mengikhlaskannya. Dengan ikhlas memaafkan kita tidak akan lagi berusaha mengingat hal-hal yang terjadi. Dengan perasaan ikhlas memaafkan tersebut, hati akan berusaha untuk menerima apa adanya, bukan berusaha untuk melupakan. Seperti dalam surat, Asy-Syura:40 
 "…dan balasan kejelekan itu adalah kejelekan pula, namun siapa yang memaafkan dan memperbaiki (hubungannya), maka pahala baginya di sisi Allah. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang dhalim. “(QS Asy Syura :40)" 
dan surat An-Nur:22
"…..dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ” (QS. An Nuur [24] ; 22)"
Dan tentunya kita didunia ini selalu akan diuji oleh Allah, seperti sabda-Nya dalam surat Al-Ankabut ayat 2, " Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?"

Jadi, terimalah apapun yang telah terjadi pada diri kita. Ikhlas dan bertawakalah, bukan berusaha melupakannya atau lari dari masalah. Hadapilah segalah sesuatu yang terjadi pada kita dengan rasa ikhlas dan sabar, karena Allah tidak akan membebankan hamba-Nya melainkan sesuai dengan kesanggupan hamba-Nya (Surat Al-Baqarah ayat 286). 

Semangaaaaat dan Cheer Up  :)





  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

katanya sih maag ?


Tulisan 3 tahun yang lalu nih tentang maag :)

Huftthh,,, hari ini maagku kambuh kembali..
Tapi, ini maag paling menyakitkan yang pernah ku derita. Hiksss..
gara2 maag ini, aku ga bisa ikutan acara sirkumsisi secara full, ga bisa ikut main ke GI. hanya terkapar di atas tempat tidur.. Malangnyaa..

ga ada kerjaan, maka kucari2 informasi mengenai penyakitku ini. Semoga suatu saat nanti, aku bisa mengobatinya sendiri, mendiagnosis sendiri penyakit ini.. aaamin :)
Semoga bermanfaat,,,
okayyyyy... check it out.. hahahaa :)

Kebanyakan orang sudah kenal dengan penyakit maag. Sehingga terkadang juga bisa mengantisipasinya bila terserang gejala penyakit ini. Dalam istilah kedokteran, penyakitmaag disebut gastritis atau peradangan lambung. Untuk gejala yang lebih ringan sering disebut dengan dyspepsia.


Daerah Lambung yang Terkena

Gastritis terjadi pada organ lambung. Organ ini terletak di sebelah kiri rongga dada dengan posisi miring ke bawah, menjorok ke kanan mendekati ulu hati. Kadang-kadang orang yang terkena sakit ini akan menunjuk atau memegang perut sebelah kiri atau ulu hati, tepat dibawah tulang dada.
Di lokasi lambung inilah proses pencernaan makanan terjadi. Untuk selanjutnya diteruskan ke usus di bawahnya. Dalam proses pencernaan tersebut dikeluarkan beberapa cairan asam lambung untuk membantu proses penghancuran makanan.

Asam Lambung Berlebihan

Terjadinya gastritis atau peradangan lambung, pada awalnya karena asam lambung yang berlebihan. Asam lambung yang semula membantu lambung malah merugikan lambung. Asam lambung akan merusak dinding lambung itu sendiri, karena sifat asam yang korosif (mengikis). Faktor yang memicu produksi asam lambung berlebihan, diantaranya beberapa zat kimia, seperti alcohol, umumnya obat penahan nyeri, asam cuka. Juga beberapa makanan dan minuman yang bersifat asam,, makanan dengan bumbu yang bersifat asam dan sebagainya. Makanan yang pedas serta bumbu yang merangsang, semisal jahe, merica, juga akan memicu produksi asam lambung.Faktor psikis atau kejiwaan seseorang bisa pula meningkatkan produksi asam lambung. Selain itu penyakit maag juga bisa disebabkan insfeksi bakteri tertentu, misalnya helicobacter pylori yang merupakan bakteri normal dalam lambung, yang dalam kondisi tertentu bisa menjadi abnormal. Yang akhirnya merangsang asam lambung. Gastritis juga bisa disebabkan alergi terhadap makanan tertentu, misalnya ikan, coklat dan lain-lain.

Keluhan dan Gejala

Pada awalnya, seseorang yang terserang penyakit ini mengabaikannya saja, yaitu rasa perih dan kembung di ulu hati. Kemudian berlanjut dengan mual dan disertai muntah. Pada saat ini, penderita baru menyadari sakitnya. Keadaan ini berlanjut dengan berkurangnya nafsu makan. Bila hal ini terus dibiarkan, akan berakibat semakin parah dan akhirnya asam lambung akan membuat luka-luka (ulkus) yang dikenal dengan tukak lambung. Muntah pun bisa disertai darah. Keadaaan gastritis akut (mendadak) juga bisa terjadi pada anak-anak yang menelan zat-zat kimia korosif, misalnya asam dan basa kuat. Pada umumnya zat ini terdapat pada cairan kebersihan rumahtangga maupun pestisida. Kerusakan akibat zat ini tidak hanya di lambung, tetapi juga di bibir, rongga mulut dan tenggorokan.

Bagaimana Solusinya?

Bila penyakit maag ini sudah disadari oleh penderitanya, sebenarnya sangat mudah mengatasinya. Artinya, tidak dibiarkan berlanjut terus sehingga menjadi tukak lambung. Prinsip penanganannya adalah diet atau pengaturan makan. Jangan biarkan perut lama dalam keadaan kosong. Keadaan kosong ini dapat mengakibatkan asam lambung yang sudah diproduksi tidak mempunyai bahan untuk dicerna tau digilas, dan pada akhirnya dinding lambung sendiri yang menjadi sasarannya.
Jangan terlalu banyak mengkonsumsi makanan atau minuman pedas dan asam. Hindari makanan berlemak, karena lemak memang sulit dicerna oleh lambung. Selain itu, tektur makanan sebaiknya lembut (lunak).

Sering-seringlah minum air putih, karena bisa mengurangi sifat asam dari makanan atau minuman tersebut. Kurangi mengkonsumsi minuman the, kopi atau soft drink. Porsi makanan sebaiknya tidak terlalu banyak, tetapisedikit dengan frekuensi sering. Bila harus mengkonsumsi obat-obatan penahan nyeri (analgetik), maka sebaiknya diminum setelah makan dan tidak dalam keadaan kosong.

Bila disiplin dalam mengatur makanan ini, Insya Allah penyakit maag bisa membaik tanpa diobati. Seandainya perut masih melilit dan mual terus menerus, maka obat-obatan untuk menetralkan asam lambung sangat membantu meringankan penderitaan. Misalnya, obat-obatan antasida. Bila dengan obat ini belum bisa teratasi, maka sebaiknya berkonsultasi dengan dokter. Kadang kala diperlukan obat penenang untuk mengobatinya.

Waspada Bagi Wanita Hamil Muda

Wanita saat hamil muda yang sebelumnya mempunyai riwayat penyakit maag, sangat beresiko kambuh, apalagi saat mengidam.
Saat mengidam, terkadang ibu hamil muda tidak berselera makan, mual dan muntah (emesis gravidarium) akibat pengaruh hormone chorionic gonadotropin. Karena perut sering dalam keadaan kosong, maka sakit tidak bisa dihindari. Begitupun sebaliknya, penyakit maag yang diderita sebelumnya bisa memperburuk masa mengidam wanita hamil, yaitu mual muntah berlebihan (hiperemesis gravidarum). Oleh karena itu, hindari lebih dahulu makanan yang merangsang lambung. Selain itu, tablet penambah darah sementara jangan dikonsumsi dulu, mengingat obat ini juga mengiritasi lambung.

Pencegahan

Sangat mudahmenghindari penyakit maag. Yaitu tidak makan dan minum yang pedas maupun asam secara berlebihan, pola makanseimbang (tidak berlebihan lemaknya), dan teratur. Hindari berlebihan minum kopi, the, soft drink. Lebih aman dengan sering minum air putih.

Namun demikian, seorang bisa terserang penyakit maag karena pengaruh ras, keturunan dan kebiasaan makannya. Mungkin saja orang dengan ras tertentu sudah terbiasa dengan makanan yang merangsang, tetapi tidak ada keluhan lambung, misalnya suku Minang. Bagi yang sudah menderita penyakit maag berat, jika harus memakan makanan yang dikelola secara missal (bersama) -misalnya dalam asrama, instansi hendaklah memperhatikan syarat makanan, seperti harus mudah dicerna, porsi makanan sedikit-sedikit tetapi sering, tidak merangsang lambung (missal pedas, asam, tektur keras), dapat mengeluarkan cairan lambung dan dapat menetralkan kelebihan asam lambung.

Satu hal yang juga perlu diperhatikan, bahwa ketenangan jiwa seseorang bisa mengurang resiko sakit maag. Jadi, hadapilah kegiatan sehari-hari dengan tenang dan berserah diri kepada Allah. Dan Insya Allah, tidak hanya penyakit maag, penyakit lain pun bisa terhindar dari tubuh kita.

Wallahu a’lam.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Their Different Smile in Idul Adha



Ini, foto saat saya lagi shalat idul adha tempat tantenya cuwe di bekasi 1 tahun yang lalu..



Pada saat hari raya Idul Adha semua umat muslim bergembira menyambut kedatangannya,  mungkin dikarenakan idul adha adalah momen yang tepat berkumpul dengan keluarga, bisa makan makanan enak, bisa shalat idul adha berjamaah dilapangan. Kebahagiaan idul adha ini tidak hanya dirasakan oleh mereka yang mampu, ternyata kebahagian ini juga dapat dirasakan oleh sekelompok anak-anak pemulung kertas. Mungkin kita tidak menyadari, di saat kita shalat berjamaah di lapangan, ada sekelompok anak-anak yang menanti rezekinya dari kita. Bagi kita, kertas koran yang kita gunakan untuk shalat di lapangan tidak memiliki nilai apapun. Namun tidak bagi mereka. Kumpulan kertas tersebut adalah sumber pendapatan mereka. Di foto ini tergambar kebahagiaan anak-anak pemulung kertas dalam tolong menolong mengais rezekinya. Dalam tolong  menolong tersebut, terbesit sebuah senyum mengembang di wajah mereka. Walaupun sumber kebahagiaan kita berbeda, namun kita tetap sama di hari Raya ini, sama-sama bahagia. Di sinilah kita bisa melihat nikmat yang Allah berikan merata bagi semua kaum-Nya di hari Raya Idul Adha, tidak mengenal mereka mampu atau tidak. 


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS